home

search

Chapter 1:Children of Dawn in the Middle of Darkness

  9 September 1995.

  Hari itu, langit tampak berduka. Kota itu diliputi kecemasan, ketika ribuan orang membanjiri jalan-jalan utama. Teriakan kemarahan, tangisan keputusasaan, dan tuntutan keadilan bergabung dalam demonstrasi besar-besaran atas skandal korupsi yang telah mengguncang negara. Spanduk berkibar, pidato bergema, dan ketegangan terasa di setiap sudut. Situasi semakin kacau, hampir berubah menjadi kerusuhan massa

  Tiba-tiba, deru mesin mobil mewah memecah keriuhan. Sebuah kendaraan lapis baja hitam berhenti di tengah kerumunan, dikawal oleh penjaga bersenjata lengkap. Pintu mobil terbuka perlahan. Seorang pria berusia empat puluhan keluar, mengenakan setelan mahal, sepatu mengkilap, dan jam tangan mewah berkilauan di pergelangan tangannya. Namun yang paling mencolok bukanlah kemewahannya, melainkan wibawa yang terpancar dari matanya. Seketika, kerumunan terdiam. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi.

  Dengan suara tenang namun tegas, pria itu berkata,

  “Cukup… bubarlah dengan damai.”

  Secara ajaib, kerumunan yang sebelumnya bergemuruh perlahan mereda. Seolah-olah di bawah pengaruh sihir, para demonstran bubar dengan tertib, meninggalkan jalanan yang dipenuhi kemarahan. Pria ini bukanlah pejabat biasa. Dia adalah Van Anim, seorang pemimpin yang sangat dihormati oleh rakyat dan dipuja oleh elite global.

  Van dikenal sebagai pejabat publik kaya yang hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk rakyat. Dedikasi, keberanian, dan belas kasihnya membuatnya mendapatkan reputasi sebagai pejabat terbaik yang pernah dimiliki negara itu. Program-programnya nyata, dan harapan rakyat terwujud satu per satu. Tetapi di balik pujian dan sanjungan itu, tersembunyi kebencian dari para pejabat bermuka dua. Mereka menuduh Van mencari simpati, terlalu bersih, terlalu sempurna—seolah-olah kehadirannya merupakan cerminan memalukan dari korupsi mereka sendiri.

  Namun Van tidak pernah goyah. Baginya, jabatan adalah amanah. Kekuasaan bukanlah untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk melindungi yang lemah. Ia dikenal sebagai orang yang taat beragama. Jika seseorang membutuhkan tanda tangannya, mereka tidak akan mencarinya di kantor yang megah, melainkan di masjid. Di sanalah Van merasa paling aman—bersujud, berdoa, dan berserah kepada Allah. Ia percaya bahwa hanya melalui iman manusia dapat menolak godaan kekuasaan.

  This tale has been unlawfully lifted without the author's consent. Report any appearances on Amazon.

  Hari-harinya terasa hampir tak berujung. Ia mencurahkan waktunya untuk masyarakat, untuk pengabdiannya, dan untuk keluarganya. Ia tidak pernah sekadar duduk santai dan menikmati kopi bersama kaum elit. Baginya, kebahagiaan sejati adalah pulang ke rumah, menatap wajah istri tercintanya, Nela Anim, dan membicarakan masa depan anak yang telah lama mereka nantikan. Sepuluh tahun penantian, doa, dan harapan.

  Namun di tengah pengabdiannya, Van menyadari satu hal: dia tidak bisa melawan sistem yang korup sendirian. Korupsi tetap merajalela, pengkhianatan terus mengintai, dan negara itu semakin terjerumus ke dalam kekacauan. Dalam doanya, Van selalu berharap akan lahirnya seseorang yang suatu hari nanti akan mengubah tatanan dunia, seseorang yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih berani darinya.

  22 Oktober 1995.

  Pagi itu, udara terasa berbeda. Tanpa sopir, Van berlari keluar dari kantornya, masuk ke mobilnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Jantungnya berdebar kencang. Hari yang telah lama ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Istrinya akan segera melahirkan.

  Tangisan bayi terdengar di ruang persalinan. Saat itu, air mata Van tak terbendung. Ia memeluk bayi laki-lakinya, membisikkan doa di telinga anaknya, sambil berharap,

  "Allahu Akbar... semoga engkau menjadi cahaya bagi dunia."

  Anak itu diberi nama Laigt Anim. Kelahirannya disambut dengan sukacita oleh rakyat dan para elit dunia. Putra mahkota yang telah lama ditunggu-tunggu akhirnya lahir ke dunia. Laigt lahir dalam kemewahan, kekuasaan, dan kasih sayang yang melimpah. Namun, Van tahu bahwa jalan hidup putranya di masa depan tidak akan mudah. ??Dunia yang diwarisinya penuh dengan luka, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan.

  Dan sejak hari itu, Van bersumpah, dia akan mempersiapkan Laigt bukan hanya sebagai pewaris takhta, tetapi sebagai pemimpin sejati yang mampu mengubah dunia.

Recommended Popular Novels